TEMUKAN KARYA

Memuat...

Selasa, 17 Januari 2012

Ada Dia Di Matamu

Inge melongok kembali ke arah beranda samping rumah. Ini kali keempat. Empat kali pula dia masih melihat tubuh Fawaizzah terduduk di situ sedari pagi. Selalu begitu. Tak terlewat tiap harinya. Inge bukannya tak memahami permasalahannya, dia tahu benar. Semua karena lelaki yang begitu dicinta putrinya. Hadi. Mestinya Fawaizzah paham pula, jika cinta memang pernah membuatnya bahagia, dia pasti akan melukai pada saatnya nanti. Inilah saatnya. Dan Fawaizzah kehabisan cara untuk mengerti. Kenapa air mata yang begitu dia benci, kerap hadir mengaliri.
“Kau belum makan juga, Zah?”
Dihampirinya gadis yang tetap menerawang jauh pada rimbunnya pepohonan di hadapannya. Inge memutar bahunya hingga tepat berhadapan dengan wajah Fawaizzah yang telah basah. “Jangan terus menyusahkan dirimu!”
Satu bulir air mata terakhir dipipinya hilang, terhapus oleh jemarinya. “Nggak apa-apa, Bu! Izah hanya belum lapar saja.”
Hening kemudian menghampiri, hingga cicip kecil dari dua ekor prenjak yang turun beristirahat di dahan akasia itu terdengar begitu halus. Ingatan Fawaizzah seperti dikembalikan pada kenangan. Burung prenjak itu selalu hidup berdua. Jika salah satunya pergi, maka dunia akan dibisingkan oleh cicipannya. Karena dia tak pernah berhenti melakukannya sampai salah satunya kembali. Begitulah Hadi pernah berucap. Tepat di beranda ini. Tepat sebulan yang lalu. Kenangan itulah yang kerap merobek cinta dan kesetiannya. Kali ini Fawaizzah merasa menjadi prenjak yang kehilangan salah satunya, menangis tak henti sampai akhirnya kembali. Ia memulainya itu kini.
“Mengapa dia begitu tega melakukan ini, Bu? Tidakkah dia sadar ini akan meninggalkan duka sepanjang hidupku?”
“Izah….”
“Kenapa dia begitu egois dengan pilihan hidupnya sendiri?"
Tangis itu menjadi-jadi. Tubuh Inge ikut terguncang saat meredam tangis Fawaizzah dalam dekapannya. “Shhh… Eling, Zah!”
“Dia tidak mencintaiku.…”
“Jangan berpikir seperti itu. Tentu saja dia mencintaimu.” Inge mendongakkan wajah putrinya itu hingga terlihat sempurnalah wajahnya. “Dia ada di dirimu. Dia ada di matamu! Dia tak akan melakukan ini jika dia tak benar-benar mencintaimu. Dia ingin kau terus melihat dunia dan menghargai segala kehidupannya. Dia ingin kau tetap melihat prenyak-pernyak itu berlarian di sini. Hingga dia bisa ikut pula melihatnya bersamamu. Karena sesungguhnya dia memang ada di matamu!”
Munkin karena Fawaizzah makin memahami kenyataannya, atau karena emosinya telah puas terlampiaskan, tangis itu hanya menyisakan isak kecil saja. Beginilah selalu semuanya berakhir. Inge menghela napas dalam-dalam, sehingga tangannya leluasa mendorong kursi duduk Fawaizzah ke ruang makan. Bekas luka amputasi itu masih terasa sakit jika digerakkan. Untung saja operasi matanya benar-benar berhasil.
“Pastinya kau lapar sekarang.”


****

Cirebon, 17 Januari 2012

Minggu, 15 Januari 2012

“Aku maunya kamu, titik!”

“Aku maunya kamu, titik!”

Terdiam. Tubuh Aris berbalik, meninggalkan Inge--istrinya--begitu saja. Tak ada lagi yang bisa diperbuat kecuali menurut. Tangannya kini mulai lincah bermain di permukaan air–di mana baju-baju kotor berserak di sana.

Sabtu, 14 Januari 2012

Kamu Manis, Kataku

Ada yang berbeda dari kebiasaannya setiap kali aku pulang bekerja. Belum selesai aku mengunci motor ojekku, Maryani sudah menyambutku begitu mesra. Diselusupkannya jemari pada pinggangku, sementara tubuhnya yang berdaster pendek makin merapat saja mengunci pergerakanku. Aku tidak tahu apakah Midun, tukang mie tek-tek itu ikut juga melihat ketika bibirnya dimanyunkan hingga mencapai pipiku.

Kenape, Neng?”

Meski balasannya sebuah pelototan manja, tapi aku belum mengerti juga maksudnya. “Kenape apaan, emang kagak boleh manja-manjaan sama laki sendiri?”

Digiringnya aku masuk ke dalam kamar kos. Di sini lebih mengagetkan lagi, kopi panas sudah mengepul di atas meja. Belum lagi sepiring cakue dan rokok kretek yang masih terbungkus. Maryani kemudian duduk seenaknya di sofa bututku, membuat dasternya tersingkap tinggi.

“Sini, Bang …!”

Aku akhirnya turut terduduk juga disampingnya, setelah tangannya menarikku jatuh bersisian. Pada hari-hari biasa Maryani tidak seperti ini. Selalu terlihat cuek. Kopi dingin pun sudah bagus dia sediakan. Apalagi kalau kemudian tahu hasil setoran mengojekku cuma dapat sedikit. Pasti aku dihadiahi omelan panjang yang berasal dari bibirnya yang manyun dan sepotong punggung pada malam harinya. Bukannya aku tidak senang dengan perlakuannya yang berubah drastis begini, tapi aku malah mencurigai hal yang melatarbelakanginya

Maapin aye udah nuduh Abang yang nggak-nggak. Ternyata abang emang cinta dan setia ama aye.” Dia lalu mengeluarkan hape dari balik dasternya. Senyumnya tak tahan dia bentuk saat tangannya mulai mengutak-atik tombol hape. “Aye kagak ngira Abang bisa seromantis ini. Aye jadi ngerasa melayang ….”

Aku terus mendehem. Belum juga menangkap maksudnya.
Aye baca terus SMS Abang ini. Bener-bener bikin deg-degan.“ Lalu senyumnya membuncah. Kemudian disodorkannya HP jadul itu padaku.
Bacain lagi, Bang! Aye pengen denger langsung dari mulut Abang.”

Seperti mulutku, tanganku gelagapan menyambut HP itu. Aku belum tahu persis SMS mana yang pernah kukirim padanya.

“Bacaaa…,” manjanya lagi

Aku harus menunggu sekian detik untuk mengatur napasku, sebelum akhirnya SMS itu aku baca perlahan. “Neng sayang, sungguh Abang cinta mati sama kamu. Abang ngerasa nyaman deket sama kamu. Kamu manis, baik dan pengertian selama ini. Maapin Abang, kadang suka bikin kamu marah atau cemberut, tapi sebenernya Abang sayang banget sama kamu. Sebagai buktinya, minggu depan Abang janji bakal beliin kamu kalung emas. Jadi jangan marah dan cemberut lagi ya. Dah, Neng! Mmmmuach.”

“Tuh, kan… romantiiis!” sambarnya dilanjutkan dengan ciuman.

Aku menelan ludah sejadinya. Menahan debar dan sesak yang terasa tiba-tiba menyerang. Oh, ternyata karena SMS ini! Entahlah, apakah ini kabar baik atau buruk. Yang jelas, inilah penyebabnya kenapa Aristin tidak tidak juga kunjung membalas SMS-ku.

****

Cirebon, 14 Januari 2012